Advertisements

Cerita di Balik International Summer School 2015

Hi Hi Hi,

Selamat datang di blog gw. Kali ini gw mau membahas tentang satu kisah yang terjadi pada saat kegiatan musim panas international di kampus gw tahun 2015. Walaupun kalian bukan peserta summer school, ada informasi yang penting mengenai orang Korea pada umumnya disini. Apakah itu? Jawabannya adalah rasisme. Well, hal ini bukan hanya terjadi di Korea tapi juga terjadi di negara kita. Hanya saja kali ini gw mau membagi cerita mengenai rasisme yang terjadi di kegiatan musim panas kali ini. Sebetulnya ada dua cerita inti mengenai hal ini. Dan gw akan ceritain satu persatu.

Cerita pertama adalah mengenai pembuatan video liputan kegiatan musim panas ini yang nantinya akan ditayangkan di salah satu stasiun televisi berita. Jadi untuk membuat video liputan ini, tim dari stasiun televisi itu datang ke kampus dan meliput acara kegiatan musim panas hari itu. Acaranya dibagi menjadi tiga bagian yaitu: pemakaian baju tradisional Korea, belajar membuat kue tradisional Korea, dan belajar tarian K-Pop. Peliputan ini disengaja/disewa oleh pihak kampus agar menunjukkan bahwa kampus gw adalah kampus yang internasional dan banyak orang asing yang senang berpartisipasi di kegiatannya. Namun permasalahannya adalah cara meliputnya. Mengapa? karena pihak dari stasiun televisi itu sengaja memilih peserta kegiatan musim panas yang berparas “orang asing” untuk dijadikan satu dan diliput dalam video. Jadi harus kulit putih atau rambut pirang atau kulit hitam atau memakai hijab. Sehingga kalo dilihat di videonya, langsung jelas kalau semuanya orang asing. Padahal peserta2 nya sudah dibagi ke grup nya masing masing dan sedang melakukan kegiatannya berdasarkan grupnya. Selain itu, mereka juga membutuhkan beberapa orang untuk diwawancara. Orang yang diwawanara juga dipilih mereka berdasarkan tampang/muka bukan kerajinan mereka dalam mengikuti kegiatan. Namun sangat disayangkan, pihak panitia dari kampus gw itu tidak menolak permintaan mereka itu. Well, karena pihak panitia dari kampus gw juga sama rasisnya. Ceritanya ada di cerita yang kedua. So, pada akhirnya video liputannya dibuat sesuai dengan keinginan mereka agar “orang asing” sering muncul di videonya.

Cerita kedua adalah mengenai kata penutup dari perwakilan peserta kegiatan musim panas. Jadi pada akhir kegiatan musim panas itu ada acara graduation gitu dan biasanya ada perwakilan peserta yang mengucap kata kata penutup. Perlu diketahui bahwa peserta dari Indonesia adalah yang terbanyak sekitar 2/5. Kemudian peserta dari Cina sekitar 1/5. Kemudian negara South East Asia lainnya 1/5 dan campuran negara Eropa dan Amerika 1/5. Bisa dibilang negara Asia mendominasi total jumlah peserta secara keseluruhan. Nah, menurut gw secara adil, mau random sampling, harusnya kata kata penutupan itu diucap oleh orang yang mewakili Asia. Tapi, pihak panitia malah pada awalnya memilih satu cowo dari England untuk mengucapkan kata penutup tersebut. Namun, satu cowo ini sebetulnya selama 2 minggu (summer school durasinya 3 minggu) sudah membuat banyak masalah dan melanggar banyak peraturan . Dari masuk ke dorm cewe (dengan bantuan teman cewenya) berulang kali sampai dilaporin cewe2 di asrama. Sering pulang telat melewat jam malam asrama. Hampir berantem ama gw dan salah satu asisten asrama saat itu (gw juga asisten asrama, asisten asrama tidak sama dengan panitia kegiatan) karena susah dibilangin. Pokoknya banyak deh. Nah, begitu gw denger dia yang mau ngomong kata2 penutup, gw langsung bilang ke panitianya NO. Masa dia si, dia orangnya gak menghargai peraturan di kegiatan ini, tapi malah dia yang dipilih. Masih banyak gitu orang orang yang lebih pantas menjadi perwakilan peserta. Karena gw bilang gitu, akhirnya dia diganti oleh orang lain. Gw ada kasih rekomendasi orang Thailand, Indonesia, atau Malaysia. Tapi yang dipilih adalah orang yang Qatar yang kuliah di England juga. Kenapa harus England si yang dipilih? Pas itu, panitianya ada ngomong orang Qatar kan pake hijab, matanya bagus, karena kuliah di England bahasa Inggrisnya pasti bagus, jadi gambarannya nanti pas ngomong pasti bagus. What? Jadi cuma liat tampang bukan liat tingkat kerajinan peserta untuk mengikuti kegiatan musim panas. Kalo pake alasan yang lebih masuk akal sih gw terima, tapi kenapa harus tampang? untuk menjadi perwakilan peserta. Menurut gw si, setidaknya Indonesia harus ada perwakilan karena pesertanya paling banyak. Tapi ya begitulah gak ada sama sekali.

Tidak semua orang Korea rasis, dan tidak semua orang bukan Korea tidak rasis. Tapi satu hal yang gw bisa pastikan orang Korea banyak yang memandang rendah Indonesia. Mereka masih menganggap Indonesia negara kecil di bawah Korea. (Beberapa aja ada yang gak tau Indonesia dimana). Kalo uda tinggal lama di Korea, kalian pasti pernah d merasa dipandang rendah ama orang Korea (gw si sering). Itu yang membuat gw gak betah di Korea. Well, gw mencerita ini gak offense ke siapa siapa sih, hanya menceritakan ugly truth dari pengalaman yang gw rasakan. Ada juga kok orang Korea yang baik (walaupun sering basa basi seperti di yang gw bilang di sini). Buat orang orang yang ikut kegiatan musim panas dan baca blog gw, diem2 aja yah. hahaha. Jangan bilang2, gw masih mau lulus dari kampus gw. LOL. Ok d, see you di postingan selanjutnya.

 

Ciao

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: