Advertisements

Education culture di Indonesia

Jpeg

Hi Hi Hi,

Di postingan kali ini, saya mau menceritakan opini saya tentang budaya pendidikan di Indonesia berdasarkan yang telah saya alami atau dengan selama ini. Mengapa saya tiba tiba mau membahas tentang hal ini? Ya karena tiba tiba saja, saya ada ngobrol dengan teman saya setelah saya kasih tau tentang minat saya menjadi dosen. Teman saya itu pernah berurusan dengan mahasiswa yang mempunyai ide bagus tapi sayang mereka kurang di bidang desain dan bisnis. Oleh karena itu menurut teman saya, alangkah baiknya kalau di kampus juga diajarin ilmu bisnis dan desain sebagai mata kuliah. Well, menurut saya, kebanyakan di setiap kampus akan mengajarkan ilmu dasar lain walaupun misalkan mahasiswa tersebut mengambil jurusan teknik. Setelah berdiskusi dengan teman saya ini, saya ingin membagikan opini saya tentang pengalaman saya berurusan di dunia pendidikan di Indonesa terutama kuliah ya dan opini tentang gaya berpikir mahasiswa Indonesia pada umumnya (yang saya tau).

Pertama, pengalaman saya menjalani pendidikan S1 di Indonesia adalah sebagai berikut. Saya merasa bahwa pihak kampus mengarahkan kita mahasiswa untuk melakukan entrepreneur atau kerja di perusahaan multi nasional dengan karir yang baik. Di setiap universitas pasti ada lah promosi kalau universitas kita itu menghasilkan siapa siapa aja gitu. Sayangnya menurut saya, hanya sedikit universitas yang mengarahkan mahasiswanya untuk menjadi peneliti atau fokus di dunia pendidikan dan pengembangan teknologi. Well, bukan salah universitas juga si. Percuma juga mahasiswa diarahkan ke situ tapi gak ada perusahaan yang mau menerima peneliti juga. Secara di Indonesia masih dikit perusahaan yang support bidang penelitian. (Karena saya jurusan IT, saya akan bahas jurusan IT) Kalau di America, ada google, facebook, apple. Kalau di Korea, ada Samsung, ada LG. Kalau di China, ada Alibaba, ada Baidu. Banyak perusahaan seperti itu yang membutuhkan tenaga kerja Ph.D untuk mengembangkan teknologi yang mereka miliki. Kalau di Indonesia, ada apa?

Mungkin saya yang kurang update dengan perusahaan yang ada di Indonesia, kalau ada tolong comment ya. hehehe. Yang pasti kebanyakan perusahaan besar yang meraup duit banyak pasti ada tim risetnya. Dan kebanyakan tim risetnya pasti minimal S2 dan dipimpin oleh S3. Contohnya aja Facebook dengan tim risetnya di link berikut: https://research.fb.com/research-areas/ . Sebetulnya, buat apa si tim risetnya? Ya buat ngembangin teknologi yang baru. hehehe. Terus, mengapa gak banyak perusahaan berbasi teknologi di Indonesia yang bisa seperti mereka? Karena kurang sumber daya manusianya. Okay, ada perusahaan Indonesia yang berhubungan dengan virtual/augmented reality. Tapi apakah mereka ngembangin hardwarenya sendiri? Softwarenya sendiri? Atau mereka beli hardwarenya, terus pakai sebuah library tools untuk ngembangin software application sendiri?  Kalau seperti itu fokus produknya adalah application bukan technology karena itu hanya meminjam teknologi yang dikembangkan orang lain. Sama halnya dengan application application lainnya si. Saya meyakini kalau di Indonesia banyak application maker yang ahli ahli si. Tapi agak kurang researcher yang ahli. Oleh karena itu saya sebut sumber daya manusia untuk penelitiannya kurang (Fokus: peneliti). Menurut saya, akan lebih baik kita fokus meningkatkan kualitas SDM yang seperti ini.

Kedua, gak bisa kita pungkiri kalau di pemikiran mahasiswa di Indonesia (atau seluruh dunia) banyak yang berpikir walau gak kuliah asalkan punya ide yang bagus, kita tetap bisa sukses seperti start up founder di USA meraup duit yang sangat banyak.. Banyak dari mereka yang terinspirasi dari kisahnya Bill Gates, Steve Jobs atau Mark Zuckenberg seperti yang ada di link berikut: http://content.time.com/time/specials/packages/completelist/0,29569,1988080,00.html. Mungkin ada dari beberapa kalian yang punya pemikiran seperti itu. Saya hanya mau bilang: Cobalah kalau berpikir lebih dingin lagi. Mengapa? Kalau semua mahasiswa berpikiran sama seperti kalian, siapa yang akan merealisasikan ide kalian? Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zuckenberg itu beruntung karena mereka buat usaha di USA. Banyak Ph.D yang ada di USA yang siap meneliti memecahkan solusi dari masalah yang ada di ide kalian. Nah kalo di Indonesia? Siapa yang mau merealisasikan kalau semua mahasiswa itu dicuci otaknya untuk bisnis dengan ide mahasiswanya, tapi gak ada yang dididik untuk menjadi ahli di suatu bidang. Mau nyewa Ph.D dari USA/ China/ Korea? Mau bayar berapa mahal? hehe. Menurut saya itu begini, dengan ide kalian bisa dapat investasi untuk menjadi perusahaan nasional. Tapi untuk jadi perusahaan multi nasional seperti Google? Facebook? Microsoft? Untuk sekarang itu seperti mimpi si. Mereka dengan ratusan Ph.D yang ada diperusahaan mereka, uda fokus untuk ngembangin teknologi baru masa depan. Semua karena mereka ada stok Ph.D berkualitas yang banyak.

Kalau Indonesia mau punya perusahaan IT kelas internasional yang bisa ngalahin Google? Bukan ide yang harus dicari dulu tapi SDM peneliti yang berkualitas. Kalau ada ide, tapi gak ada teknologi, kita gak bisa apa apa (Technology limitation). Tapi kalau ada teknologi, kita bisa kembangin ide kita dengan luas. Kenapa saya bisa bilang kalau kita kurang SDM berkualitas, walau banyak berita bahwa orang Indonesia banyak yang menjadi kunci peneliti di bidangnya masing masing. Bahkan ada yang mau dibayar untuk sebuah teknologi. Pertanyaan saya: berapa ratio peneliti Indonesia tersebut dari peneliti dunia? Apakah teknologi yang mereka kembangkan cuma dari beberapa teknologi di dunia? Teknologi atau ilmu baru itu sangat bervariasi dan luas. Jadi semakin banyak orang, semakin baik. Coba bayangkan, saya sering ke conference nomor satu di bidang saya (Computer Vision) yaitu CVPR atau ICCV (peringkat 1 dan 3 di google scholar: https://scholar.google.com/citations?view_op=top_venues&hl=en&vq=eng_computervisionpatternrecognition). Baca postingan saya sebelumnya yang mau tau tentang CVPR di link ini. Berapa banyak orang Indonesia di situ? Hanya sekitar 1 sampai 3 orang dari 3600 orang peserta. Berapa persen tu? 0.055 persen. Saya si bisa bilang kalau jumlah orang Cina di conference tersebut itu bisa sampai lebih 1000 orang malah bisa sampai 1800 orang. (27 sampai 50 persen). Gak heran kalau Cina bisa menyumbang segitu banyak peniliti karena saya pernah dengar kalau di 1 universitas jumlah mahasiswa S1nya 20000 orang, jumlah mahasiswa S2 dan S3 nya 10000 orang. Bisa dibilang setengah dari S1 lanjut ke S2 atau S3. haha.

Begitulah pendapat saya tentang budaya pendidikan di Indonesia. Semua berdasarkan pengetahuan yang saya punya. Ada mungkin bahwa beberapa keliru tapi saya yakin sebagian besar cukup benar. Saya dengan terbuka untuk diskusi melalui fitur comment. Kalau mau diskusi yang serius, bisa juga kita ngobrol demi masa depan pendidikan Indonesia yang baik. Marilah kita beri weight yang lebih besar ke technology research daripada application development. Saya yakin kalau dunia pendidikan ke arah seperti itu, kita bisa menciptakan perusahaan kualitas internasional yang mengalahkan atau paling tidak setara sama Google lah. Tentunya untuk pihak yang mampu, marilah kita support peneliti untuk meningkatkan kualitas mereka. dan Untuk peneliti, tingkatkan kualitas kalian masing masing untuk menggapai level dunia. Jangan puas dengan hasil penelitian yang dikenal di nasional aja. Jangan cuma puas paper kalian diterima di journal yang di index di Scopus atau SCI tapi tingkatkan kualitas penelitian kalian untuk jadi paper yang di terima di top tier journal.

Sekian isi blog saya yang serius dan cukup panjang ini. Pasti gak banyak yang tertarik baca blog ini. Tapi ya saya ingin share aja opini saya yang ini. Thank you sudah menyiapkan waktu untuk baca. See you di postingan selanjutnya.

Ciao

Advertisements

6 Comments on Education culture di Indonesia

  1. Perusahaan-perusahaan seperti Bukalapak atau Tokopedia gitu butuh peneliti nggak sih?

    Like

  2. Oh gitu. Mungkin mereka sekarang masih fokus ke pemasaran dulu kali ya…

    Like

  3. stevenlockhart // February 4, 2017 at 11:43 pm // Reply

    Once again Pao, it’s about market.. kalau berdasarkan pengalaman gw sebagai sales di dunia IT sih ya pemikiran orang Indonesia itu beda. Beberapa minggu yang lalu gw sempat meeting dengan orang Symantec dari Singapore, dia cerita kalau revenue Symantec di Indonesia itu cuma 1 juta USD dalam setahun, sementara di Singapore bisa sampai 29 juta USD dalam setahun. Bayangin Singapore negara kecil begitu, gw yakin jumlah perusahaan di Indonesia lebih banyak dibanding di Singapore.
    Terus temen gw yang ikut meeting juga tanya, ada gak strategi yang dipakai di Singapore yang bisa di pakai di sini. Si orang Symantecnya bilang, “no, it’s different, in here they only care about their own pocket.” yang artinya disini itu lebih mentingin harga murah.

    Itu kenyataan mindset orang Indonesia. Karena mereka menganggap IT itu sebagai cost yang gak men-generate revenue. Contohnya begini, kalau u punya perusahaan seperti TIKI atau JNE deh, dan tiba-tiba punya dana budget 100 juta, kebanyakan orang akan lebih milih gunain dana itu untuk tambah armada daripada beli software atau hardware. Karena armada itu menghasilkan revenue sementara perangkat IT itu gak. Alhasil mereka lebih milih nyari perangkat IT yang murah aja asal perusahaan itu bisa jalan dulu.

    Dan lagi kebanyakan tipikal orang Indonesia itu, tunggu terjadi sesuatu dulu baru mereka sadar. Contohnya di security, tunggu kejadian datanya hilang dulu baru orang nyadar pentingnya sediain software back up.

    Nah kalau menurut gw itulah yang menyebabkan di Indonesia gak ada peneliti. Karena suatu perusahaan yang invest untuk research akan menyebabkan harga produknya menjadi mahal. Dengan mindset orang Indonesia yang seperti itu, siapa yang mau beli barang mahal kalau bisa dapat harga murah dengan fitur yang mereka anggap bisa menjalankan perusahaan dulu.

    Like

    • well.. it is about culture si. hehe. culture orang bisnis di Indonesia ya seperti itu menurut gw. Kebanyakan kita dididik kalau buat bisnis itu adalah untuk profit sebanyak banyaknya. Tapi kita gak dididik bagaimana cara penggunaannya. Beda kalo kita lihat dengan bos bos perusahaan IT dunia. gw yakin si kalo perusahaan2 besar d Indonesia itu selalu punya profit besar dan bisa menyisakan sedikit untuk biaya penelitian di bidangnya masing masing. Toh, mereka bisa menggunakan duit yang banyak untuk marketingin produk mereka juga kan. 🙂 Nah pertanyaannya gimana kita bisa rubah itu? Sama halnya seperti slogan revolusi mental, Semuanya gak bisa diubah dalam waktu sekejap si.

      Perusahaan kalau gak bisa invest ke peneliti bukan karena harga barang jadi naik dan mahal si (Seberapa banyak dari kita yang pake produk luar negeri dengan harga mahal? Banyak perusahaan dari luar negeri yang masarin produknya dengan harga mahal, tapi tetep kita pakai kan?) Permasalahannya adalah, gak ada penliti yang berkualitas yang bisa diinvestasiin. Kalo perusahaan mau invest, mereka belum yakin sama kemampuan peneliti nya juga kan? Lagipula sulit juga mengharapkan pebisnis untuk invenstasi ke peneliti. Yang bener perbanyak stok peneliti berkualitas, dari situ beberapa bisa jadi pebisnis berdasarkan idenya.

      Kalau ada stok peneliti berkualitas + ide yang bagus. Gak menutup kemungkinan betul betul muncul Googlenya versi Indonesia. Founder google kan meneliti tentang fast search engine yang merupakan teknologi sukses pada saat awal pendiriannya. Kalo gw si ingin memotivasi mahasiswa agar mengambil keputusan yang beda dari yang lain. Bukan demi diri sendiri aja, tapi demi kemajuan teknologi negara si.

      Begitulah.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: