Advertisements

Perbandingan Etos Belajar di Indonesia dan Korea

Hi Hi Hi,

Di postingan ini saya akan membahas perbedaan etos belajar di Indonesia dan Korea. Saya sudah menjalankan tiga setengah tahun masa studi S1 saya di Indonesia dan enam tahun masa studi S2 dan S3 saya di Korea. Selama di Korea, saya sering melihat etos belajar dari mahasiswa mahasiswa di Korea untuk dibandingkan dengan mahasiswa di Indonesia. Dalam hal ini, mahasiswa atau dosen Indonesia mungkin harus belajar dari etos kerja di Korea. Mengapa? Karena dengan etos kerja seperti itulah, negara Korea berkembang sangat cepet dibandingkan oleh Indonesia. Di Korea, saya sering mendengar kalau tahun 90an Korea itu masih di belakang Indonesia, tapi dalam 20 tahun, kota kota di Korea berkembang pesat. Tentunya ada faktor luas negara yang membedakan karena Indonesia jauh lebih besar negaranya dibandingkan Korea. Tapi salah satu alasannya yaitu etos belajar dan kerja orang orang negara Korea yang keras dan disiplin. Bahkan Presiden kita sekarang, Bpk. Jokowi, juga sudah menyatakan bahwa masyarakat Indonesia perlu meningkatkan disiplin dan etos kerjanya seperti yang tertulis di berita berikut:

Sebelum saya membahas etos belajar orang Indonesia, saya akan membahas etos belajar orang Korea. Pertama tama, kita perlu mengetahui bahwa kebanyakan sistem nilai di Korea itu relatif, yang artinya nilai kita bisa dapat bagus apabila kita lebih baik daripada yang lain, dan bisa dapat jelek apabila kita lebih jelek daripada yang lain. Jadi walaupun kita dapat nilai 90 tapi rata rata kelasnya 98, berarti nilai kita bisa jadi jelek. Oleh karena itu, ini membuat persaingan dan kompetisi di Korea itu sangat ketat. Sehingga orang Korea banyak yang belajar setiap hari dalam jangka waktu yang panjang. Di Korea, universitas itu buka 24 jam, dan ada ruang baca yang bebas dimasuki oleh mahasiswa. Di ruang belajar tersebut, selalu saja ramai orang entah pagi, malam, atau subuh. Setiap orang belajar sangat keras untuk mendapatkan nilai yang lebih baik dari yang lain. Etos belajar seperti ini sudah dididik dari semenjak SMP atau SMA. Anak anak Korea sudah belajar dari pagi semenjak di sekolah sampai larut malam di les. Dikarenakan mereka menggunakan banyak waktunya untuk belajar, budaya membaca buku di Korea sangat tinggi, terutama untuk buku pengembangan diri.

Etos belajar mahasiswa di Korea juga sangat dipengaruhi oleh Professor atau dosen yang mengajar. Professor biasanya mempunyai hak penuh atas nilai yang diberikan kepada mahasiswa. Terkadang ada Professor yang kasih ujian setiap 2/3 pertemuan dan bobotnya sama seperti ujian akhir. Ada pula Professor yang memberikan proyek akhir yang sangat sulit. Untuk mendapatkan nilai yang bagus, mahasiswa diwajibkan memenuhi kriteria yang ditentukan oleh Professor. Apabila Professor sudah memberikan tugas, sangat jarang kalau Professornya menurunkan standarnya dengan alasan agar mahasiswa bisa menyukai mata kuliahnya terlebih dulu. Yang ada, Professor selalu memberikan tugas dengan standar yang tinggi dan mahasiswa diharapkan memenuhi standar tersebut. Dengan begini, apabila mahasiswa tersebut lulus dengan nilai baik dari mata kuliah yang diajarkan Professor tersebut maka mahasiswa tersebut dapat dipercaya kalau mereka mempunyai kualitas tertentu. Intinya nilai yang didapat itu mencerminkan kualitas mahasiswa tersebut. Tentunya semakin bagus universitasnya, semakin tinggi standar yang dipakai. Ada kualitas apabila mahasiswa mendapat cum laude atau summa cum laude.

Selain itu, pada saat di kelas, mahasiswa akan sangat sulit untuk memegang handphone atau tidur. Saya mengambil contoh dari beberapa Professor yang saya kenal. Mereka sangat tidak suka apabila mahasiswa terganggu sama hal hal lain seperti handphone atau tidur. Biasanya mahasiswa dilarang mengeluarkan handphone nya pada saat di kelas. Dan apabila mahasiswa tidur di kelas Professor, maka Professor tersebut akan membangunkan dan mengomelinya. Ada Professor yang mewanti mewanti mahasiswa untuk tidak tidur dan menyiapakan energy drink apabila ngantuk di kelas. Sehingga, mahasiswa menjadi lebih siap untuk mengikuti kelas yang diajarkan Professor-Professor tersebut. Pada akhirnya, waktu belajar mengajar sangat dihargai di sini.

Okay, sekarang mari kita bahas etos belajar orang Indonesia. Saya merasa kalau mahasiswa Indonesia masih termasuk malas untuk mempelajari sesuatu yang diajarkan. Mereka masih berharap segala sesuatu itu masih diajarkan oleh dosen atau Professor yang mengajar dan tidak berusaha untuk mencari ilmu sendiri melalui buku buku. Saya mengetahui mahasiswa Indonesia belajar sampai larut malam tapi itu hanya pada saat jaman ujian alias sistem kebut semalam. Mereka tidak terbiasa untuk mencicil ilmu yang diajarkan dan membaca buku. Semua itu sebetulnya karena dengan melakukan hal seperti itu aja sebetulnya mereka sudah memenuhi standar yang ditetapkan. Jadi etos belajar itu sangat berkaitan dengan standar yang ditetapkan oleh universitas di Indonesia.

Saya beberapa kali menganalisa bahwa dosen dosen di Indonesia dekat dengan mahasiswa sehingga mahasiswa tidak menggubris aturan yang ditentukan dosen. Banyak mahasiswa yang terpegok memainkan handphonenya atau tidur di saat proses belajar mengajar berlangsung. Tapi apa yang dilakukan dosennya? Hanya membiarkan mahasiswa tersebut. Tidak ada aturan yang ketat untuk meningkatkan kewaspadaan mahasiswa. Selain itu banyak dosen yang membiarkan mahasiswa keluar pada saat jam kuliah berlangsung. Mahasiswa tidak peduli dengan materi yang diajarkan dan lebih memilih ke kantin atau sering ke toilet. Sebetulnya apabila mereka sudah menyiapkan diri mereka untuk belajar, mereka bisa ke toilet sebelum pelajaran dimulai sehingga mereka bisa fokus. Namun pada dasarnya banyak mahasiswa yang tidak peduli dengan itu, dan itu diperburuk dengan mereka dibiarkan oleh dosen dosen yang mengajar. Kesimpulan saya disini adalah, beberapa mahasiswa cenderung tidak mempunyai niat untuk fokus dan serius pada pelajaran dan itu dibiarkan oleh dosen yang bertanggung jawab. Pada saat di Korea, saya sudah terbiasa untuk pergi ke toilet, tidak membawa handphone, dan minum kopi sebelum kelas dimulai karena saya dituntut untuk fokus pada mata kuliah yang diajarkan.

Selain itu, terkadang dosen di Indonesia menurunkan standarnya agar mahasiswa bisa mengikuti pelajaran yang diajarkan. Hal ini sama saja dengan dosen tersebut menurunkan kualitas mahasiswa yang diajarkan. Harusnya mahasiswa dilatih agar bisa meningkatkan kualitas yang mereka dimiliki. Sangat tidak masuk akal apabila dosen menurunkan kualitas pendidikan dengan tujuan agar mahasiswa menyukai mata kuliah yang diajarkan. Di perkuliahan, dosen berkewajiban menyiapkan materi kuliah yang sebaik baiknya dan mahasiswa berkewajiban menyerap materi kuliah sebanyak banyaknya. Oleh karena itu, untuk mencapai kualitas yang baik, dosen tidak berhak untuk menurunkan kualitas yang sudah ditentukan. Apabila kualitas pendidikan diturunkan demi memberikan nilai yang tinggi untuk mahasiswa, maka nilai yang didapat suatu mahasiswa tidak mencerminkan kualitas dari mahasiswa tersebut. Ada aja kasus IPK nya di atas 3.5 tapi pada saat dikasih kerjaan di dunia kerja, mereka tidak bisa melakukan apa apa. Karena nilai mereka didapat dari rendahnya kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan ditentukan dari kualitas dosen yang mengajar. Apabila dosen mengajar sebuah mata kuliah, maka dosen tersebut berkewajiban untuk mengetahui secara detil mata kuliah yang diajarkan bukan mengetahui kulitnya atau materi yang ada di slidenya saja.

Selama saya di Korea, saya betul betul merasakan kualitas dari orang orang Korea yang berbeda IPK. Hal ini terjadi karena Professor di sini betul betul memberikan nilai sesuai dengan kualitas mahasiswa tersebut dan usaha mereka untuk mendapatkan nilai tersebut. Lain halnya dengan mahasiswa mahasiswa dari Indonesia (yang baru ke Korea untuk S2), saya tidak merasakan kualitas dan mental mereka sesuai dengan IPK yang mereka raih pada saat S1. Menurut saya, untuk meningkatkan etos kerja dan disiplin seperti yang dicetuskan oleh Bpk. Jokowi, kualitas pendidikan kita harus ditingkatkan sehingga etos belajar mahasiswa juga meningkat. Janganlah kita menyesuaikan kualitas pendidikan agar sesuai dengan mahasiswa. Apabila mahasiswa itu tidak bisa mengikuti, ada kemungkinan salah pada dosennya, tapi lebih banyak kemungkinan salah pada mahasiswanya yang terlalu bergantung pada dosennya.

Opini ini saya buat dari pengalaman saya belajar di Indonesia dan di Korea. Etos belajar saya dulu masih tidak baik namun setelah saya belajar di Korea, etos belajar saya meningkat. Oleh karena itu, saya berharap dengan ini bisa membantu meningkatkan etos belajar mahasiswa di Indonesia pada umumnya. Sebetulnya masih banyak perbandingan perbandingan lain, tapi berhubung sudah cukup panjang, saya akan nambah perbandingan lain di postingan selanjutnya. Okay, deh see you di postingan selanjutnya.

Ciao

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: