Advertisements

Sindrom Orang dari Luar Negeri

Hi Hi Hi,

Di postingan ini gw pingin share mengenai sindrom yang melanda sebagian orang yang pernah tinggal lama dari luar negeri lalu kembali ke Jakarta untuk liburan. Topik ini muncul ketika gw bertemu dengan teman lama gw di Korea yang lagi masa liburan di Jakarta. Berdasarkan pembicaraan dengan dia, gw merasakan ada beberapa hal yang sama yang dirasakan dia dan gw pada saat gw liburan atau awal kepulangan gw di Jakarta. Oleh karena itu, gw merasa lucu aja kalau share hal hal seperti ini. Sindrom sindrom yang gw tulis disini mungkin berlaku buat beberapa orang, ada positif dan ada negatif. Berikut adalah sindrom sindrom-nya.

  • Sindrom merasa harga transportasi murah

Ya, bagi sebagian orang yang baru balik dari luar negeri, naik taksi online atau ojek online itu sangat murah. Karena kita terbiasa untuk bayar mahal apabila kita mau naik taksi di luar negeri. Sebagai contoh begini, dari lokasi tempat tinggal gw pas di Korea sampai ke airport itu, gw harus membayar sekitar 500,000 rbu rupiah untuk perjalanan selama 30 menit. Tapi kalau di Indonesia, paling gw harus membayar sekitar 120,000 rupiah. Nah, sindrom ini menjadi awal dari sindrom selanjutnya yaitu:

  • Sindrom selalu kasih tips tambahan kalau naik taksi/ojek online

Sebagai contoh, teman gw yang naik taksi online. Begitu dia mendapatkan harganya itu 120,000 rupiah yang mana dia rasakan sangat murah, dia menggenapkan itu menjadi 150,000 rupiah. Selain itu apabila kita naik ojek online, kita selalu memberikan tambahan / membulatkan ke bilangan yang bulat dan enak didengar. Gw pun pernah merasakan sindrom seperti ini awal awal karena gw masih merasakan menggunakan uang dari hasil bekerja di Korea. Malah gw berpikir tidak mau mempunyai kendaraan pribadi sendiri karena lebih suka naik ojek online. Tapi begitu sekarang, dikarenakan gaji dari Indonesia, plus gw harus memikirkan masa depan gw, dkk. Gw jadi merasa naik ojek online pun lumayan mahal kalau setiap hari (apalagi pas high rate). Dan setelah itung punya itung, ternyata uang transportasi itu bisa dibuat cicil motor sendiri. Jadilah, gw membeli motor untuk kelangsungan hidup gw. haha

  • Sindrom merasa harga makanan mahal

Nah kebalikan dengan harga transportasi yang menurut kita murah, kita (yang tinggal lama di luar negeri) selalu berpikir ternyata makanan Indonesia itu mahal juga ya. Gw malah sempat berpikir, kalau begini apakah dengan gaji yang diterima bisa cukup untuk menghidupi. Apalagi harus cicil rumah, mobil, motor, dkk. Bayangkan saja, kalo di Korea gw selalu makan makanan berkisar 50,000 – 100,000 ribu rupiah sekali makan, di Jakarta gw juga selalu makan makanan berkisar gitu pada saat gw kembali untuk liburan. Belum lagi tambahan-tambahan untuk dessert dan sebagainya. Ternyata anggapan itu salah, karena selama gw balik untuk liburan, gw hanya mencari makanan di mall atau restoran restoran dikarenakan kebanyakan gw bertemu orang di mall atau restoran. Makanan di Jakarta masih murah kok, masih ada nasi uduk paket seharga 10,000 rupiah, makan sayur sayuran + nasi seharga 15,000 rupiah, nasi goreng tek tek seharga 12,000 rupiah. Oleh karena itu buat kalian yang dari luar negeri, jangan terkena sindrom ini ya. Intinya si jangan hedon aja, hidup hemat atau hedon itu pilihan kok. haha

  • Sindrom makan minimal 5 kali sehari

Nah ini kelanjutan dari yang sebelumnya. Ya jelas aja merasa makanan mahal, karena kita makan bisa minimal 5 kali sehari kalau pulang dari liburan. hahaha. Karena kalau bertemu orang, pasti pilihannya kalau gak di restoran atau kafe. Pastinya kita membutuhkan tempat duduk untuk berbincang bincang, oleh karena itu, kita pasti makan banyak. Satu lagi alasannya, kita yang udah lama di luar negeri itu sangat rindu makan banyak variasi makanan Indonesia. Dan waktu kita di Indonesia terbatas. Jadilah kita makan terus menerus seharian. haha. Makanya kalau liburan balik ke Indonesia, timbangan bisa naik lagi tuh. Gw pernah uda diet mati matian turunin 4 kg selama beberapa bulan, hancur karena balik ke Jakarta seminggu. Naik lagi deh 4 kgnya.

  • Sindrom merasa orang Indonesia tidak tertib

Kita tahu kalau Jakarta itu sangat macet. Bahkan waktu gw ke Bali pun, merasakan macet di kota lain. Terkadang jalanan macet bukannya karena jalanan yang sempit tapi karena pengemudi nya yang tidak tertib. Jadilah orang orang yang baru balik dari luar negeri ini langsung membandingkan dengan budaya di negara mereka tinggal dan mengambil kesimpulan kalau orang tidak tertib. Banyak banget parkir liar yang masih ada, macet karena jalanan dua arah dipakai jadi satu arah, dan sebagainya. Dan ada beberapa oknum yang memang memelihara ketidak tertiban ini demi keuntungan pribadi, seperti orang orang yang mencoba “mengatur” lalu lintas di putaran balik. Buat kita, mereka itu hanya membuat lalu lintas lancar buat yang kasih duit, tapi membuat lalu lintas lancar buat yang lainnya. Biasanya kita selalu berkomentar kalau ada yang tidak tertib seperti itu dan sangat disayangkan karena hal ini bisa membuat orang yang udah tinggal lama di luar negeri ogah balik ke sini.

  • Sindrom gak mau pergi dari Indonesia (pulang ke luar negeri)

Ya setelah yang ditulis diatas, baik yang baik atau tidak, orang orang yang kerja di luar negeri biasanya gak mau balik lagi ke luar negeri. Berbagai alasan yang membuat kita gak mau balik lagi ke luar negeri. Kerja di luar negeri itu sangat bikin stress dan penuh tekanan. Selain itu teman teman dekat kita itu kebanyakan tinggalnya di Indonesia. Biasanya pas udah mau deket deket tanggal balik, ada aja yang posting uda gak mau balik. Ya, gak semua orang punya sindrom seperti ini. Tapi bagi kalian yang udah merasakan sindrom ini, itu menunjukkan kalian bentar lagi akan kembali ke Indonesia untuk bekerja disini daripada di luar negeri. 😛

Ya begitulah opini gw mengenai hal ini. Bagi kalian yang tidak termasuk di poin poin di atas, jangan jadi oposisi postingan ini ya. Just for fun. 😛 See you di postingan selanjutnya.

Ciao

Advertisements

8 Comments on Sindrom Orang dari Luar Negeri

  1. Menurut gue, poin ke 5, bukan sindrom, tapi fakta kok 😬 Dari dulu, ga pernah (mau) berubah. Tertib di A, tapi ‘brutal’ di B. Padahal seharusnya klo sudah bisa tertib di A, di B juga bisa menggunakan asas yg sama.
    Dan klo point ke 4, juga bukan sindrom, tapi (mungkin) emang planning. Secara, namanya liburan, ada makanan-makanan yang ga bisa ‘dinikmati’ setiap hari, alhasil ya kudu coba semua. Malahan bukan 5x lagi, klo perut masih cukup, 10x di ‘hayuukks-in’ aja deh 😂😅

    Like

    • hahaha. ya sebetulnya cuma menulis pengalaman yang pernah gw dan temen gw rasakan si. pilih pilih kata, akhirnya kepilih sindrom. haha.

      Like

  2. Setuju banget di bagian orang indonesia nggak tertib 😣. Butuh adaptasi berbulan-bulan supaya nggak emosi jiwa waktu naik kendaraan umum.

    Liked by 1 person

  3. Fakta klo indonesia bnyk yg tdk tertib

    Liked by 1 person

  4. makanan, teruatam buah sih setuju banget,bandingin biasa beli buah melon 1,liat di supermarket ada yg jual sepotong atau udah dipotong2…, biasa belanja 7 kilo buat stok seminggu, mau beli sekılo aja mikir2 hehe harga nya ,dinegara skrg tinggal urusan sayur buah emang murah meriah

    Like

  5. Wah!! Bener banget ini. hahaha

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: