Advertisements

Apresiasi Timpang Sebelah?

Hi Hi Hi,

Di postingan ini gw mau share pandangan gw terhadap “apresiasi timpang sebelah” yang umum dilakukan oleh manusia. Note: sebagai manusia. Sebetulnya wajar kalau kita sering kali memberikan apresiasi yang tidak sesuai dengan kualitasnya karena kurangnya informasi. Sebagai contoh si A menjadi juara di kompetisi internasional dan si B hanya menjadi perwakilan di kompetisi internasional. Seringkali kita hanya menghargai si A dan menggembar gemborkan beritanya dan kita bersikap biasa saja terhadap si B. Hal itu terjadi karena kita sering kali hanya melihat konteks juaranya saja daripada proses yang dilalui. Oleh karena itu, terjadi yang namanya apresiasi timpang sebelah. 🙂 Di postingan ini gw ingin share mengenai beberapa kejadian yang gw ketahui dan ingin mengajak kepada kita semua untuk lebih cermat lagi dalam memberikan apresiasi. Jangan sampai kita memberikan apresiasi yang timpang sebelah.

Pertama tama gw akan membahas dari sisi keunggulan gw yaitu masalah publikasi. Tipikal peneliti itu bermacam macam di berbagai bidang. Namun, di setiap negara pada umumnya mempunyai ketentuan yang general untuk semua bidang. Sebagai contoh di Korea itu sangat menghargai yang namanya journal yang diindeks oleh SCI(E). Hanya publikasi journal yang mereka hitung untuk perhitungan poin dan lain hal. Lalu bagaimana dengan conference? Karena pada umumnya conference itu banyak yang mudah untuk diterima, mereka menganggap conference itu hal yang tidak terlalu penting. Oleh karena itu, Professor-Professor berlomba lomba untuk menulis journal yang terindeks SCI(E). Memang, banyak conference mudah yang kualitasnya tidak begitu bagus. Tapi begitupula dengan journal, ada juga yang mudah dan kualitas tidak begitu bagus. Ada conference yang sangat susah seperti CVPR, yang kualitasnya jauh di atas journal kelas menengah pada umumnya.

Pernah waktu di Korea, gw cerita ke teman gw di bidang Biology mengenai persiapan gw mau tulis paper di conference. Tapi bayangan teman gw itu conference itu seperti jalan jalan dan persiapannya gak gitu susah. Dan dia membangga banggakan paper dia ada diterima di journal apa apa gitu. haha. Well, untuk masalah journal dan conference itu tidak hanya ada di Korea, tapi juga ada di Indonesia si. Penelitian di Indonesia masih lebih menghargai paper di journal akreditasi nasional daripada paper di internasional seminar (walaupun itu top conference yang gw yakin 100x lebih susah dari paper di journal nasional, Note: khusus untuk bidang gw). Gw cukup paham masalah journal dan conference ini kenapa bisa sampai terjadi. Ya karena gak semua bidang sama seperti bidang gw yang ada top conference yang sangat susah itu. Jadi wajar kalau terjadi apresiasi timpang sebelah.

Selain publikasi, apresiasi juga bisa diberikan untuk award yang didapat. Terkadang, orang hanya melihat judul dari award tersebut lalu memberikan apresiasi yang melebihi kadarnya. Sebagai contoh, gw selama menempuh S3 pernah mendapatkan beberapa award sebagai berikut:

  1. Outstanding Research Award (Dean’s Choice of the Best Researcher), Inha University (2017)
  2. Best Student Paper Prize in IEIE Summer Conference (2017)
  3. Best Paper Award in 23rd International Workshop on Frontiers of
    Computer Vision (2017)
  4. Best Student Paper Prize in 28th Workshop on Image Processing and Image Understanding (IPIU 2016)

Kalau dilihat dari judulnya, award ke 1 merupakan award hanya dari universitas. Award ke 2 dan ke 4 merupakan award yang diberikan kepada paper yang dibuat oleh student (mungkin di tingkat nasional). Lalu award ke 3 terlihat paling berharga karena merupakan award yang diberikan di international workshop. Biasanya orang akan lebih merasa wow ke award yang diberikan di tingkat internasional. Bagaimana kalau gw sendiri merasa kalau award ke 2, 3, dan 4 itu adalah award yang biasa saja. Bahkan, gw aja kaget bisa dapet award dengan paper yang gw tulis di workshop domestik atau internasional saat itu. Gw lebih menghargai award ke 1 yang gw terima dari universitas karena menunjukkan lulusan terbaik di bidang penelitian. Terkadang, judul dari award bisa membuat kita menilai mana yang lebih baik dan tidak. Award-award ke 2, 3, 4 itu sangat tidak berharga buat gw bila dibandingkan dengan satu paper gw yang diterima di top journal atau conference seperti TPAMI atau CVPR. Lebih baik gw banyak paper TPAMI dan CVPR daripada mendapatkan award biasa saja. Tentunya lebih baik kalau dapat dua duanya. haha. Tapi ya jangan karena gw gak pernah dapat award, tapi kerjaannya tulis paper saja lalu gak dipandang sama sekali.

Contoh lain mungkin bisa kita lihat dari perlombaan ya. Satu hal yang gw amati itu, tidak sulit bagi kita yang ingin menjadi juara internasional lalu diberitakan di media. Bahkan media tidak verifikasi informasi yang diberitahukan. Sebagai contoh adalah kasus yang satu ini ==> http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41562851. Tidak dilakukannya verifikasi ini adalah salah satu penyebab apresiasi timpang sebelah. Selain itu, banyak lomba lomba internasional yang kualitasnya kurang, atau ibaratnya mudah untuk menjadi juara dengan kemampuan kita sekarang. Ada juga lomba internasional yang sudah berpuluh puluh tahun sejarahnya dan mempunyai sistem dan persaingan yang ketat seperti olimpik. Dalam hal ini gw akan mengambil contoh dari olahraga bulutangkis tapi menurut gw hal ini bisa diaplikasikan ke bidang lain.

Di olahraga bulutangkis, terdapat lomba tingkat dunia seperti olimpic atau world championship. Bagi seorang atlet untuk mengikuti perlombaan tersebut, kita harus mengumpulkan poin poin yang didapat dengan mengikuti berbagai pertandingan internasional. Di pertandingan internasional, ada beberapa level seperti superseries (premier), grand prix (gold_, dan international challenge. Pemain-pemain jago itu biasanya bertanding di level superseries. Pemain-pemain yang masih kurang pengalaman, biasanya bermain di level international challenge. Misalkan ada pemain A, dia juara di international challenge tapi dia tidak mempunyai kualifikasi masuk olympic. Lalu ada pemain B, dia tidak pernah juara di international challenge, tapi dia masuk 8 besar pas olympic. Manakah yang harus kita apresiasi lebih? Bagi kita yang mengerti, tentunya kita mengapresiasi pemain B, karena dia sudah mencapai 8 besar di olympic. Kalau kita tidak mengerti, pasti kita akan melihat pemain A itu lebih hebat karena dia punya juara. Sedangkan, pemain B, dia hanya peringkat 8 besar di perlombaan. Begitulah salah satu contoh apresiasi timpang sebelah. Note: gw hanya membuat contoh, tidak ada kasus nyata mengenai olahraga bulutangkis ini.

Satu kisah terakhir yaitu tentang seorang Professor yang gw kenal di Korea (Seorang Professor Korea yang selalu menyatakan kalau dia itu warga negara Kanada). Professor ini pernah dimuat beritanya di majalah dinding kampus yang menyatakan kalau dia terpilih untuk ditulis di katalognya Marquis: Who’s who in the world? Di situ tertulis kalau hanya orang tertentu saja yang bisa dimuat di katalog tersebut. Apabila kita tidak tahu, tentunya kita akan menganggap itu hal yang sangat keren. Tapi nyatanya, di Juni 2017, gw mendapatkan e-mail yang menyatakan gw terpilih untuk dimuat di katalog tersebut setelah melalui proses review yang ketat. Lalu intinya, gw disuruh bayar untuk dibikin beritanya, dibikin piagamnya, dan lain lain. Pada akhirnya UUD = Ujung ujungnya duit. Jadi bisa dibilang untuk dimuat disitu, bisa dengan bayar. Karena gw gak pernah bayar, gw dikirimin e-mailnya berulang ulang sampai November 2017 yang menyatakan bahwa gw dinominasikan, gw terpilih, dll oleh katalog yang sama. Itulah adalah contoh kalau award itu bisa dibeli dan sangat mudah dipakai untuk membuat orang berpikir kalau kita menggapai suatu yang hebat.

Begitulah kisah kisah dan opini gw mengenai apresiasi yang timpang sebelah atau salah apresiasi. Sebagai manusia, mengapa kita tidak mencoba untuk mencari tahu terlebih dahulu sebelum memberikan apresiasi. Bagi gw, apresiasi yang telat lebih baik daripada apresiasi yang salah. Tentunya ada juga orang yang bilang ngapain si irit irit dalam apresiasi. Well, gak ada salahnya apresiasi asal gak berlebihan dari kapasitasnya. 🙂 Apresiasi yang tepat akan membawa orang orang berlomba untuk menjadi lebih baik lagi. Apresiasi yang berlebihan akan membuat orang menjadi malas untuk berusaha lebih baik. Apresiasi yang kurang akan membuat orang berhenti untuk mencapai yang terbaik. Semoga kisah kisah di atas bermanfaat buat kita semua. Note: Ini hanyalah opini, open for discussion, no correct answer, tidak dibuat karena gw meminta apresiasi. haha. See you di postingan selanjutnya.

 

Ciao.

 

Picture URL: here

Advertisements

1 Trackback / Pingback

  1. Dosen Itu Kerjanya Apa Sih? – PaoPao's Iyagi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: