Advertisements

Mahasiswa = Organisasi? Kuliah? Lomba?

Hi Hi Hi,

Di postingan kali ini gw akan membahas mengenai kegiatan mahasiswa dalam menjalani perkuliahan. Pada umumnya, banyak mahasiswa yang ikut kegiatan organisasi kemahasiswaan dan ada pula mahasiswa yang fokus ke perkuliahan dan meningkatkan hard skillnya. Seperti yang kita ketahui, biasanya mahasiswa yang mengikuti organisasi kemahasiswaan bertujuan untuk meningkatkan soft skill mereka dan mahasiswa yang fokus di perkuliahan bertujuan untuk meningkatkan hard skill mereka. Banyak yang bilang soft skill itu sangat membantu untuk mendapatkan pekerjaan. Percuma kalau kita punya hard skill, tapi kita gak bisa mengkomunikasikannya dengan soft skill kita. Di postingan ini, gw mau membahas pernyataan tersebut. Untuk membahas hal itu, kita memerlukan orang yang sudah terlibat di kedua kegiatan itu. Gw termasuk orang yang memenuhi kriteria tersebut. ^^ Semasa kuliah S1, gw cukup aktif dalam berbagai kegiatan mahasiswa. Sebagai contoh, gw pernah menjadi:

  • Ketua event bakti sosial
  • Ketua event eksibisi
  • Ketua himpunan mahasiswa
  • Koordinator keuangan, publikasi dan dokumentasi, tim kreatif
  • Berbagai macam anggota kepanitiaan
  • Mentor program orientasi mahasiswa selama dua tahun
  • dan ikut berpartisipasi di berbagai macam pelatihan kepemimpinan, seminar, dan workshop

Jika dibandingkan pada saat itu, gw termasuk orang yang mempunyai banyak sertifikat dari organisasi untuk melamar kerja (Walau kalau gw lihat sekarang, sertifikat itu gak begitu berguna). Namun, gw tidak mengambil jalan mencari kerja tapi gw melanjutkan studi gw ke jenjang yang lebih tinggi. Walau gw aktif berorganisasi, gw masih tetap menjaga nilai yang gw dapatkan di perkuliahan, dari 146 SKS yang harus gw selesaikan, gw hanya 1 x mendapatkan C dan sisanya A atau B. Bisa dibilang dengan nilai mumpuni, gw cukup percaya diri pada saat gw melanjutkan studi gw di Korea. Namun, setelah beberapa bulan gw menjalani perkuliahan di Korea, gw merasa kalau pengetahuan gw itu tidak setara sama nilai yang gw dapatkan. Pada saat itu gw merasakan tembok yang tinggi antara ilmu yang gw ketahui dan ilmu yang seharusnya gw sudah pahami. Nah, pada saat inilah juga, gw jadi merasakan apakah yang gw dapatkan di kuliah itu betul-betul berguna? Soft skill yang mahasiswa aktif organisasi selalu banggakan itu menjadi tidak berguna karena memang daripada soft skill, hard skill itu lebih berguna. TAPI, menurut gw, hal ini hanya berlaku bagi mahasiswa yang mempunyai jurusan teknik atau ilmu alam dimana memang hard skill menjadi dasar kualitas seseorang. Bisa juga dikatakan, hard skill berguna apabila kita mau mempunyai pekerjaan di bidang teknik. Maksud gw adalah soft skill bisa saja lebih berguna daripada hard skill apabila pekerjaan kita tidak mengurusi hal-hal yang teknikal. Karena pekerjaan gw sangat berkaitan dengan bidang teknik, maka gw tulis postingan ini.

 

Sering kita dengan kalau mahasiswa mempunyai hard skill yang sama, maka yang mempunyai pengalaman organisasi biasanya lebih dipilih. Ingat, disini ada asumsi mempunyai hard skill yang SAMA. Mengapa? Karena di job vacancy itu tidak pernah dituliskan bahwa yang dibutuhkan mempunyai pengalaman organisasi atau soft skill yang baik. Gw mengambil contoh salah satu job vacancy untuk posisi software engineer dari salah satu perusahaan terkenal di dunia, yaitu Google:

JobVacancySeperti yang dilihat, di minimum atau preferred qualifications, tidak ada kualifikasi softskill yang diperlukan selain communication skills dalam berbahasa Inggris. Kalau itu, menurut gw, betul betul murni kemampuan berbahasa Inggrisnya karena yang post job vacancy nya adalah Google. Okay, mungkin perusahaan Indonesia masih lebih mementingkan soft skill, kalau begitu kita lihat job vacancy untuk posisi yang sama di salah satu perusahaan start-up ternama di Indonesia, yaitu Traveloka:

JobVacancy2

Sama seperti google, qualification yang ditulis adalah mengenai hard skillnya daripada soft skillnya. Mengapa demikian? Karena memang untuk mengembangkan teknologi terdepan, kita membutuhkan orang-orang yang hard skillnya hebat daripada orang yang mempunyai soft skill yang bagus tapi gak punya hard skillnya. Untuk perusahaan yang berhubungan dengan teknologi, biasanya mereka akan mencari orang-orang yang mempunyai pengalaman juara di lomba-lomba atau mengerjakan proyek-proyek daripada yang pernah jadi ketua organisasi kemahasiswaan. Mengapa? Karena dari situlah kualitas dari hard skill seseorang bisa dilihat. Sebagai contoh, gw pernah mendengar salah satu mahasiswa S1 Korea yang ditawarkan pekerjaan di Google dikarenakan mahasiswa tersebut pernah menjadi wakil Korea di World Final Programming Contest. Disini bukan lagi kita yang mencari pekerjaan, tapi perusahaan yang mencari mahasiswa tersebut karena sudah terbukti kualitas dari mahasiswa tersebut. NAMUN, perlu diketahui bahwa hard skill yang dimaksud bukanlah nilai yang tinggi di perkuliahan. Karena seperti yang gw bilang, nilai gw cukup tinggi di perkuliahan, tapi gw merasa gak mempunyai hard skill yang bagus pada saat melanjutkan kuliah S3 gw. Bahkan gw merasa kesulitan untuk memulai coding hal-hal yang simple. Hard skill yang dimaksud adalah betul-betul kemampuan sesuai dengan jurusan di bidangnya yang dapat dibuktikan dengan portofolio. Oleh karena itu, untuk mahasiswa, gw SANGAT menyarankan agar aktif mengikuti lomba-lomba atau membuat proyek-proyek yang berhubungan dengan jurusannya masing-masing. Hal tersebut akan sangat lebih berguna daripada hanya mengikuti kegiatan perkuliahan dengan nilai yang baik atau hanya mengutamakan soft skillnya saja.

Namun, soft skill bukan sesuatu yang gak penting juga. Gw pernah ketemu orang-orang yang memang mempunyai nilai lumayan tinggi tapi pada saat dikasih proyek malah tidak bisa mengerjakannya. Ada juga yang mentalnya tidak kuat pada tekanan sehingga kabur dari tanggung jawab yang ada. Untuk itulah, sebetulnya hard skill dan soft skill harus ada secara bersamaan, bukan salah satu saja. Jujur, kalau gw gak mempunyai pengalaman soft skill, gw mungkin gak bisa bertahan S3 di Korea dimana pressurenya yang sangat berat. Tapi tetap, gw percaya bahwa kalau mahasiswa sudah jadi juara di lomba tingkat internasional yang kredibel, mahasiswa tersebut mempunyai dua hal tersebut, dimana mahasiswa tersebut sudah terlatih terhadap tekanan yang diberikan ke dia untuk latihan menjadi juara.

Permasalahan yang sering gw lihat saat ini gw bagi menjadi tiga yaitu:

  • Mahasiswa aktif di organisasi tapi hard skillnya tidak ada (Soft skillnya juga belum tentu berkembang). Mahasiswa tersebut ikut organisasi hanya karena bisa kumpul kumpul atau main-main bersama teman sebayanya.
  • Mahasiswa rajin mengumpulkan nilai di perkuliahan tapi tidak mempunyai cara berkomunikasi yang bagus, tidak bisa menahan tekanan, dan tidak bisa menerima masukkan juga. Selain itu, hard skillnya juga belum terasah.
  • Mahasiswa yang memenuhi kedua poin di atas.

Oleh karena itu, melalui postingan ini gw berharap untuk memberi tahu pandangan gw terhadap kriteria mahasiswa yang baik. Sebaiknya, sebagai mahasiswa, kita harus aktif dalam berpartisipasi di dalam setiap kegiatan dimana kita yang menjadi pemeran utamanya. Maksud gw disini adalah, bukan menjadi pendengar seminar, tapi menjadi peserta lomba atau membuat proyek-proyek di luar kampus. Karena dengan begitu, kita akan dapat mengasah hard skill kita. Mengikuti lombapun, kita tidak boleh puas hanya menjadi peserta tapi harus tetap berusaha keras untuk menjadi juara. Terus bagaimana yang aktif di organisasi? Mereka kan tidak punya waktu untuk ikut lomba-lomba. Untuk mahasiswa yang aktif di organisasi, akan lebih berguna apabila mereka aktif membuat proyek-proyek. Bagaimana mengatur waktu agar bisa meningkatkan soft skill dan hard skill secara bersamaan menentukan kualitas kita sebagai mahasiswa. Tentunya apabila kita sudah menerima sebuah tanggung jawab, kita harus menyelesaikan tanggung jawab itu dengan baik.

Begitulah pendapat gw mengenai tugas seorang mahasiswa di perkuliahan. Sebetulnya, gw juga bingung apa yang gw tulis karena terlalu panjang. hahaha. Oleh karena itu, untuk summary, gw akan bilang kita sebagai mahasiswa wajib mementingkan hard skill terlebih dahulu apabila kita berada di jurusan teknik atau ilmu alam. Soft skill adalah additional penting yang diperlukan kita. Gw akan lebih respek ke orang yang menunjukkan hard skillnya daripada soft skillnya. Mahasiswa sudah bukan saatnya mikirin hal lain, tapi fokus meningkatkan teknologi apabila ingin negara kita tidak ketinggalan dari yang lain. Apabila bukan mahasiswa, siapa lagi? Indonesia kekurangan SDM di bidang teknologi. Mungkin karena pada beberapa tahun lalu, kita mempunyai pemikiran bahwa kita tidak akan mendapat banyak benefit apabila tetap stay di bidang teknologi. Tapi zaman sudah berubah, dimana SDM berkualitas banyak dibutuhkan dan lebih dinilai. Okay deh, begitu aja curhatnya yang gak gitu jelas. See you di postingan selanjutnya.

Ciao

Advertisements

2 Comments on Mahasiswa = Organisasi? Kuliah? Lomba?

  1. langsung lah Google APAC dong ko plis. haha

    Liked by 1 person

  2. Nice info 👍👍

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: